Kuredupkan langitku
Kuselimutkan awan-awan hitam
Bernoda bintang nyaris tak tampak
dalam malam
di saat takdir kita berhenti berfriksi..
Kuredupkan langitku
Kuselimutkan awan-awan hitam
Bernoda bintang nyaris tak tampak
dalam malam
di saat takdir kita berhenti berfriksi..
Kita adalah cinta yang gersang…
Terganyang matahari yang sama membungkus ilalang menuju kehausan..
Kita terjebak dalam cinta yang menyesakkan…
Layaknya persetubuhan alveoli dengan harum lavender yang hangus terbakar..
Sekaratlah.
Meniru busa.
Mengambang,
lalu tenggelam.
*Bedry Qintha, 2 Januari 2008*
Kuibaratkan langit yang gersang berbusa.
Aku ingin puisiku bernafas
dalam gubuk-gubuk penuh asap
bertiang lelehan tulangmu
.
saat ia dibacakan antara
pekik liar api emosi
dan dentum-dentum kelelahan ototmu
.
yang mereka tak tahu maknanya
seperti gubuk-gubuk itu dibakar
beriring keinginanku
.
untuk pergi jauh…
…dari rumah
aku bertransformasi
menjadi kumpulan belulang yang membosankan
seakan dunia dengan satu wajah
merapatkan kehendak dibawah saatu titah.
Aku Lelah.
terduduk di tengah jendela-jendela dunia,
.
memijat pelan dahi yang menegang
.
dengan jantung kehilangan irama yang seharusnya,
tukakku mengencang,
.
KIAMAT! minggu ujian segera datang!!
Dua puluh menit selepas adzan…
Melengking suara, berang kata-kata, kusut kendali,
Membulat mata, berlari nafas, naik-turun dada,
Meliar emosi.
Frustasi.
antara aku dan bunda.
Terpejam mata
di hangat selimut nyawa.
Mengatup lelah
di sela hening empuk lemas.
Lalu berlipat tamat
putih perkamen hidup berkesudahan.
Berkesudahan.
Di alas kakimu,
kau temukan aku.
-
Tak ikut larut bersama jejak tapak yang mengering.
-
Menunggu,
sebagai gumulan debu yang basah,
di balik seluruh alas kakimu.